the availability cascade

bagaimana satu cerita keberuntungan viral bisa menipu publik

the availability cascade
I

Pernahkah kita rebahan santai sambil menggulir layar ponsel, lalu tiba-tiba disuguhi cerita seseorang yang mendadak kaya raya? Mungkin itu cerita tentang pemuda yang iseng berjualan foto selfie dalam bentuk NFT dan meraup miliaran rupiah. Atau kisah seseorang yang menaruh uang jajannya di koin kripto antah-berantah, lalu mendadak bisa membeli mobil mewah. Saat melihat itu, ada perasaan aneh yang menjalar di dada kita. Ada rasa kagum, sedikit iri, dan tiba-tiba muncul satu pikiran berbahaya: "Kalau dia saja bisa, masa saya tidak?"

Dalam sekejap, linimasa kita dipenuhi oleh cerita serupa. Teman-teman kita mulai membicarakannya. Berita di televisi ikut membedahnya. Tiba-tiba, rasanya seolah-olah seluruh dunia sedang berpesta mendulang emas, dan kita adalah satu-satunya orang bodoh yang tertinggal di rumah. Kita merasa kesuksesan semacam itu adalah hal yang normal dan sangat mungkin terjadi pada siapa saja. Padahal, tanpa kita sadari, kita sedang ditarik masuk ke dalam sebuah ilusi massal yang dirancang dengan sangat rapi oleh kelemahan otak kita sendiri.

II

Untuk memahami mengapa kita mudah sekali terbuai, kita harus membedah cara kerja otak manusia. Otak kita, secara evolusioner, adalah mesin penghemat energi. Ia tidak suka menghitung probabilitas statistik yang rumit. Sebagai gantinya, otak kita menggunakan jalan pintas yang dalam dunia psikologi disebut availability heuristic. Sederhananya, kita cenderung menilai seberapa sering suatu kejadian terjadi berdasarkan seberapa mudah kita mengingat contoh kejadian tersebut.

Dulu, di zaman purba, jalan pintas ini sangat berguna. Jika teman-teman kita melihat seekor harimau memakan anggota suku di dekat sungai, otak kita akan mengingat cerita itu dengan sangat kuat. Hasilnya? Kita tidak akan pernah berani mendekati sungai itu. Otak menggunakan cerita yang mudah diingat untuk menyelamatkan nyawa kita. Masalahnya, di era digital modern, algoritma media sosial membajak mekanisme bertahan hidup ini. Algoritma tahu bahwa cerita sukses yang bombastis dan emosional akan menahan perhatian kita lebih lama. Jadi, mereka memborbardir kita dengan cerita keberuntungan satu dari sejuta orang. Otak kita meresponsnya dengan keliru. Kita mengira karena cerita itu sangat mudah ditemukan di layar ponsel, maka peluang keberhasilannya pasti sangat besar. Padahal, secara matematis, peluangnya mendekati nol.

III

Namun, mari kita renungkan sejenak. Jika ini murni hanya soal kelemahan otak individu, mengapa dampaknya bisa menyapu bersih nalar sebuah masyarakat secara serempak? Sepanjang sejarah, kita melihat fenomena ini berulang kali. Saat fenomena Gold Rush di California pada abad ke-19, ratusan ribu orang rela meninggalkan pekerjaan dan keluarga mereka demi memburu emas yang belum pasti, meski faktanya yang paling kaya pada akhirnya bukanlah para penambang, melainkan orang yang berjualan sekop.

Atau di masa kini, mengapa tiba-tiba satu negara bisa keranjingan membeli tanaman hias dengan harga setara rumah? Ada sebuah kekuatan tak kasatmata yang bekerja di balik layar. Sebuah gaya tarik sosiologis yang mengubah satu cerita keberuntungan individu menjadi histeria massal yang rasanya tidak mungkin ditolak. Pertanyaannya, apa sebenarnya nama mesin tak terlihat yang berhasil mencuci otak kita semua ini? Dan mengapa, bahkan orang-orang cerdas sekalipun, bisa ikut kehilangan akal sehat mereka saat mesin ini mulai berputar?

IV

Jawabannya terletak pada sebuah konsep brilian yang dirumuskan oleh ilmuwan Timur Kuran dan Cass Sunstein, yang disebut sebagai the availability cascade. Jika availability heuristic adalah percikan apinya, maka cascade atau efek air terjun inilah bensin yang mengubahnya menjadi kebakaran hutan yang tak terkendali.

Prosesnya berjalan seperti ini. Awalnya, satu cerita keberuntungan yang langka muncul ke permukaan. Karena ceritanya menarik, media dan algoritma mulai membesarkannya. Cerita ini memicu reaksi emosional yang kuat dari publik. Nah, di sinilah tahap cascade terjadi. Ketika semakin banyak orang membicarakan cerita tersebut, muncul sebuah tekanan sosial baru. Jika kita berani meragukan cerita itu, atau mengingatkan orang tentang probabilitas kegagalan, kita akan dianggap pesimis, kolot, atau tidak mau melihat peluang. Akibatnya, orang-orang yang skeptis memilih diam. Suara yang mendominasi hanyalah suara-suara euforia. Otak publik akhirnya mengkalkulasi ulang realitas: "Karena semua orang membicarakannya sebagai kebenaran, maka ini pasti sebuah kebenaran mutlak."

Diperparah lagi, kita terkena apa yang disebut survivorship bias atau bias kebertahanan. Kita hanya melihat satu orang yang berhasil menang lotre kehidupan, tanpa pernah melihat jutaan orang lain yang hancur lebur, bangkrut, dan diam-diam menangis di pojokan karena kegagalan yang sama. Kuburan para pecundang ini sunyi dan tidak pernah diliput media. Akibatnya, ilusi keberuntungan ini mengkristal menjadi fakta palsu di tengah masyarakat.

V

Jadi, apakah ini berarti kita bodoh karena sempat percaya pada narasi kesuksesan instan? Tentu saja tidak. Kita hanya manusia biasa. Keinginan untuk memperbaiki nasib dengan cepat adalah sesuatu yang sangat manusiawi, dan otak kita memang diciptakan dengan celah keamanan yang sayangnya mudah dieksploitasi oleh the availability cascade. Menyadari hal ini seharusnya tidak membuat kita merasa bersalah, melainkan membuat kita lebih welas asih pada diri sendiri dan orang lain.

Lalu, bagaimana cara kita melindungi diri? Kuncinya ada pada jeda. Saat kita melihat sebuah tren keberuntungan meledak dan semua orang seolah berlomba-lomba melompat masuk, ambil napas panjang. Mari kita berteman dengan probabilitas yang membosankan. Tanyakan pada diri sendiri: di mana orang-orang yang gagal dalam permainan ini? Mengapa suara mereka tidak terdengar? Dengan berpikir kritis dan menolak terbawa arus air terjun informasi yang manipulatif, kita bukan hanya menyelamatkan uang di dompet kita. Lebih dari itu, kita sedang menyelamatkan kewarasan kita di tengah dunia yang semakin bising ini. Keberuntungan instan mungkin ada, tapi ketenangan pikiran yang lahir dari nalar yang sehat, harganya jauh lebih mahal dari sekadar cerita viral.